0 X DIBACA

Sinopsis dan Resensi Novel Bumi Manusia [Pramoedya Ananta Toer]



Bumi Manusia adalah buku pertama dari tetralogi buku yang ditulis oleh sastrawan legendaris Indoneisa yaitu, Pramoedya Ananta Toer, beliau menulis buku ini ketika di dalam penjara Pulau Buru,1975.

Berlatar tempat di Surabaya Wonokromo, serta beberapa kota sekitar yang sekarang disebut Jawa Timur dan latar waktu di antara tahun 1989 sampai 1918,dimana budaya Eropa sangat diagung-agungkan sebaliknya kebudayaan pribumi dianggap lebih rendah. Buku ini menceritakan seorang pemuda pribumi bernama Minke(plesetan dari kata ‘monkey’ yang artinya monyet) yang merupakan keturunan ningrat terbukti ia siswa H.B.S (Hogere Burger School) untuk masuk ke H.B.S, kalau bukan totok (orang Eropa asli) atau Indo (campuran), pastilah pribumi yang dijamin oleh sebuah kedudukan yang cukup tinggi. Minke tak pernah mengakui jaminan itu, Ia memperkenalkan dirinya sebagai Minke, tanpa nama keluarga, seorang pribumi. Minke juga merupakan anak yang cerdas karena ia membaca dan menulis dalam bahasa Belanda sebanding bahkan lebih baik dari mereka yang berdarah totok bahkan semua pandanganya tentang hidup sudah seperti orang totok Eropa, ia juga pecinta sastra sangat berbeda dari pemuda lainya.

‘Tanpa mempelajari bahasa sendiri orang takkan mengenal bangsanya sendiri.’-Pramoedya Ananta

Suatu hari Minke diajak oleh teman sekaligus lawan, Robert Surhorf berkunjung ke rumah mewah yang ternyata merupakan kediaman keluarga Mallema (keluarga seorang Belanda kaya yang terkenal).Kunjunganya itu mengenalkanya kepada Robert Mallema pemuda Indo-Eropa yang bertatapan tajam, dan juga adiknya Annelies gadis yang digambarkan Pramoedya menandingi kecantikan Ratu yang sering diimpi-impikan oleh Minke. Di sela-sela kunjungan tersebut Minke juga dipertemukan dengan Ibu Annelies yang tak lain dan tak bukan adalah Nyai Ontosoroh yang sering dibicarakan orang. Sebutan Nyai, pada masa kolonial Belanda berarti gundik, simpanan orang Eropa, tidak dinikahi secara resmi, tetapi tinggal serumah dan bahkan melahirkan anak-anak berdarah campuran. Minke pun memanggil Nyai Ontosoroh dengan sebutan ‘mama’ di sini digambarkan Nyai Ontosoroh sangat mendukung keberadaanya di rumah itu, Minke juga ditakjubkan oleh kepandaian Nyai Ontosoroh yang bertutur kata, budaya, pengetahuan dan kecakapannya sebanding dengan wanita Eropa yang terpelajar, sosok Nyai sangat mengagumkan bagi Minke karena selain pandai ia juga merupakan sosok ibu yang baik juga pekerja keras Nyai memimpin rumahnya sendiri, karena Herman Mellena jarang pulang, Ia mempertahankan bisnisnya dengan kepandaian ala Eropa. Minke memasuki keluarga Mellena itu, bahkan Nyai memintanya untuk tinggal. Minke sangat jatuh cinta dan tergilagila dengan Annelies ia menyukai semua tentang Annelies wajah cantiknya, sifat manja dan pekerja keras yang diturunkan oleh ibunya, serta keinginanya menjadi pribumi seperti ibunya, tidak seperti kakaknya yang ingin menjadi Eropa tulen seperti ayahnya walaupun ayahnya sudah kacau dan tidak memperhatikan apa-apa termasuk dirinya.

Sejak saat pulang dari kediaman Mellena Minke jadi terbayang-bayang dengan Annelis, gadis yang telah menjadi pujaan hatinya, dan juga Minke terbayang oleh perkataan Nyai yang mengharapkan Minke bisa sering berkunjung bahkan tinggal di rumah mereka. Tetapi sejak itu banyak hal-hal yang menentang Minke. Tentangan pertama datang dari keluarganya sendiri yang tak sudi Minke tinggal di kediaman seorang Nyai yang berarti gundik seorang tuan Belanda. Ayahnya tak mau mengakui anak lagi. Bencana kedua datang dari pihak sekolah yang karena alasan moral memberhentikan Minke sebagai siswa.

‘Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati.’-Pramoedya Ananta

Setelah berbagai tentangan yang dihadapi, Minke kembali bersekolah di H.B.S karena tulisannya yang dimuat di media. Minke juga akhirnya menikah dengan Annelis. Dia menerima Annelis seutuhnya dengan segala kekurangannya begitu juga dengan Annelis. Walaupun begitu wali dari pihak Minke hanyalah Ibunya yang masih menganggap Minke anak. Minke dan Annelis juga menikah secara Islam. Tetapi tantangan yang sesungguhnya terjadi pada satu hari ketika datangnya seorang Belanda bernama Maurits Mellema. Dia mengaku sebagai anak sah dari Herman Mellema di Nederland. Dia meminta seluruh hak dan kekayaan ayahnya yang membuat ayahnya frustasi dan lari ke minuman keras sampai mati. Herman Mellema mempunyai anak dan istri di negara asalnya, akan tetapi dia menikah dengan wanita pribumi dan mempunyai anak pula.

Hasil dari pengadilan diputuskan bahwa perkawinan Nyai Ontosoroh dengan Herman Mellema tidak sah berikut perkawinan Minke dan Annelis. Sehingga pengadilan memutuskan bahwa seluruh harta dan kekayaannya jatuh ke tangan Maurits Mellema. Sistem pengadilan saat itu tidak memberikan kesempatan pribumi membela diri. Maka Annelis harus di bawa Maurits ke Belanda. Pada saat itu Annelis jatuh sakit, akan tetapi hukum yang berlaku telah memaksanya dan memisahkannya dari ibu kandungnya dan suaminya. Sungguh ironis, kehidupan orang pribumi di zaman ini dimana orang asli yang punya negara tidak bisa berbuat apa-apa tetapi orang Eropa berkuasa dimana-mana. Hukum yang berkuasa memutuskan hubungan ibu dan anak, suami dan istri. Hukum buatan manusia yang semena-mena dan lunturnya kemanusiaan yang menyentuh sampai di dasar hati. Novel sastra karya Pramoedya Ananta Toer ini menggambarkan tempat bernama bumi yang dihuni oleh makhluk bernama manusia.


‘Dalam hidup Cuma satu yang kita punya, yakni “KEBRANIAN” Kalau tidak punya itu lantas apa harga hidup kita ini?’-Pramoedya Ananta 
Oleh : Janice Cs

Posting Komentar

0 Komentar