0 X DIBACA

[Resensi Buku] Jejak Langkah: Sukses Buah Kegigihan




Dalam buku tetralogi ketiga ini masih dikisahkan aktor yang sama dengan buku sebelumnya, bumi manusia dan anak semua bangsa. Minke seorang pribumi yang memiliki idealisme dan pemikiran progresif seperti kaum intelek. (Siapa Minke, baca dua novel sebelumnya). Jejak Langkah menginformasikan pada kita tentang gerakan kaum pribumi melawan kolonialisasi Hindia yang sudah mengakar di bumi manusia ini. Berbeda dengan gerakan lainnya, Minke tidak melawan dengan angkat senjata, tetapi melawan dengan tulisan melalui jiwa jurnalistiknya. 

Produk tulisan yang dibaca kaum pribumi semakin banyak dan dapat mengantarkan mereka melek terhadap realitas yang dihadapi. Bacaan kaum pribumi yang populer saat itu adalah Medan Prijaji, melalui media ini, Minke menyerukan untuk melawan meningkatkan gerakan boikot, kaum pribumi harus berorganisasi, dan menghapuskan budaya feodal. 
Melalui berbagai gerakan jurnalistik, Minke memberikan landasan perlawanan dengan petuah "didiklah rakyat dengan berorganisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan". Bergerak dengan pena, menciptakan keilmuan alternatif di berbagai hal adalah perjuangan kita selaku kader intelektual untuk menyadarkan, melek realitas dan menciptakan budaya ilmiah di lingkungan dimana kita berada.

Hijrahnya Minke dari wonokromo ke batavia untuk menempuh sekolah kedokteran STOVIA  yang dibiayai oleh gubermen, memaksa dirinya berpisah dengan nyai ontosoroh yang telah mengajarkan realitas kehidupan. Pada saat menempuh sekolah ini, murid tinggal di asrama yang penuh dengan aturan dan tata tertib, begitu juga dengan minke yang hidup dibawah berbagai aturan dan tata tertib asrama sekalipun dia seribg melanggarnya. Saat di asrama ini, minke mengasah kemampuan menulisnya sebagai salah satu langkah permulaan sehingga terlibat semakin dalam di dunia jurnalis di betawi.

Keterlibatan Minke ke dalam dunia jurnalis karena ajakan sahabatnya yang berasal dari semarang Ter Har yang mengundang Minke untuk ikut diskusi dan pertemuan di kamarbolaDe Harmonie. Narasumber diskusi itu adalah Jend. Van Heutz dan anggota Tweede Kamer, Van Kollewijn, mereka dipandang sebagai sosok yang memberikan konstribusi besar bagi Hindia karrna telah memunculkan sendi-sendi kehidupan baru bagi orang-orang pribumi. Akhirnya, dari diskusi inilah, Minke dikenal oleh Van Heutz. 

Setiap akhir pekan, pata siswa mendapatkan dispensasi diperbolehkan untuk keluar dari asrama, dan minke termasuk salah seorang yang sering keluar masuk asrama di akhir pekannya, dan menghabiskan waktunya di Waterloo Plain (lapangan banteng sekarang) untuk mendengarkan musik. Para murid sekolah kedokteran seakan menjadi primadona bagi masyarakat, sehingga ketika siswa keluar dari halaman sekolah, setiap mata memandang dengan cermat dan wajahnya akan dihafalkan oleh masyarakat dengan harapan mereka mendapatkan menantu salah satu dari siswa kedokteran itu, tidak terkecuali Minke. Minke yang selalu menghabiskan waktunya mendengar musik dan keluar asrama merasa tidak enak karena selalu menjadi sorotan mata masyarakat. Oleh karrna itu, minke memutuskan pindah tempat untuk menghabiskan waktu akhir pekannya, minke memilih mendatangi ibu badrun, wanita tua, janda yang hidup dengan dua anak lelaki yang dipungutnya. Dirumah inilah mibke menghabiskan dengan membaca dan menulis. 

Pada waktu menulis, minke teringat pada sosok khow ah soe yang menitipkan surat untuk diberikan pada seorang gadis di betawi. Akhirnya minke mengantarkan surat itu ke alamat yang tertera di surat, dan ditujukan kepada Ang Son Mei. Pertemuan dengan Ang Son mei, membuat minkeblebihbdengan dengan komunitas tiongkok dan banyak mengenal perempuan tiongkok yang berkumpul dalam pejuang tiongkok. Lambat laun, minke jatuh hati dan menikah dengan salahbsatu gadis pejuang tiongkok yaitu Hwee Koan 

Pasca memperistri gadis pejuang tiongkok, pemikiran minke menjadi semakin kritis dan tajam kepada belanda. Pada saat itu, munke berkumpul dengan para pejuang tiongkok sehingga dia mendapatkan banyak referensi gerakan yang menjadi inspirasi. Seperti gerakan angkatan muda tiongkok, perlawanan rakyat filipina pada kolonialisasi spanyol, dan pesatnya kemajuan jepang di bumi utara. 

Pada suatu waktu, ada seminar dengan narasumber pensiunan dokter jawa yang memverikan spirit berorganisasi dengan cara menceritakan diorama pergerakan kaum tionghoa. Hal ini dilakukan agar, pemuda pribumi yang tertinggal meniru gerakan kaum tionghoa. Orang pribumi harus sadar akan ketertinggalannya, jangankan dengan asia, jepang, eropa, bahkan dengan kaum tionghoa dan arab yang ada di hindia saja orang pribumi tertinggal. 
 
Banyaknya agenda perjuangan yang diikuti, akhirnya mei kelelahan dan jatuh sakit yang berujung pada maut yang datang. Bak jatuh tertimpa tangga, ditengah duka atas kematian istrinya, minke dikeluarkan dari sekolah kedokteran karena terbukti membuat resep obat sendiri untuk mei. Hal ini dianggap sebagai sebuah pelanggaran, karena minke masih belum menjadi seorang dokter. Akhirnya minke keluar dengan mengganti seliruh biaya selama berada di asrama. 

Setepah keluar dari sekolah kedokteran, minke bangkit dengan membentuk organisasi dengan bantuan berbagai pihak. Organisasi yang dibentuk adalah Syarikat Priyayi yang beranggotakan temen-temen waktu sekolah kedokteran, kaum priyayi dan wedana. Dengan anggota inilah akhirnya muncul organisasi Syarikat Priyayi di pendopo Patih Meester Cornelis. Organisasi karya orang pribumi ini bukan organisasi ilegal tetapi disahkan oleh Gubermen. Saat itu, terbitlah koran mingguan medan priyayi untuk menyampaikan berita-berita organisasi. Medan priyayi sebagai koran yang baru mendapatkan simpati masyarakat. 

Namun organisasi syarukat priyayi mengalami kemandegan roda organisasi karena banyaknya anggota yang vakum dalam perkembangannya. Hal ini menjadi pikiran buat minke, kalau syarikat priyayi maka perjuanga dan idealismenya akan mandeg bersamaan dengan organisasi pribumi ini. Berangkat dari pikiran ini, minke memberikan semangat dagar organisasi ini tetap berjalan hingga akhirnya minke berhasil menyelamatkan medan priyayi agat tetap terbit menyuarakan suara dan peristiwa kaum pribumi. 

Saat bergelut dengan aktivitas menulisnya, raden tomo (dr. Soetomo) teman sekelasnya minke mendatanginya untuk meminta pendapat terhadap pembentukan organisasi boedi oetomo (B.O). Minke memberikan apresiasi atas rencana pembentukan organisasi ini dan minke menerima tawaran temennya unruk bergabung dalam organisasi ini. Namun dikemudian hari, minke memutuskan untuk mundur dari organisasi ini karrna dianggap berlainan dengan prinsip idealisme yang selama ini diperjuangkan. Disisi lain syarikat priyayi yang didirikan mengalami stagnasi organisasi, karena anggota tidak aktif dalam mengusung suara kaum pribumi. Sekalipun demikian, minke tak patah arang dalam menyatukan kaum pribumi.

Dalam pejuangannua ini, minke ditemani Sadiman, seorang mantan prajurit legium mangkunegara sala. Minke pindah ke bogor untuk memperluas perjuangannya menyatukan kaum pribumi. Pada waktu di bogor, terdapat seorang gadis, putri raja karisuta (maluku) mendatangi minke untuk meminta bantuan agar ayah dan dirinya bisa kembali ke asalnya maluk setelah dibuang di negeri priangan ini. Keinginan ini hanya bisa direalisasikan melalui kebijakan yang dikeluarkan gubernur jendral van heutz. 

Permintaan bantuan putri raja kepada minke bukan tanpa alasan, karena putri dan keluarga kerajaan mendengar minke memiliki kedekatan dengan gubernur, sehingga raja mengutus putrinya menemui minke. Minke berusaha membantu keluarga kerajaan itu dengan menemui gubernur, namun gubernur menolak permintaan itu dan bahkan minke disuruh untuk menikahi gadis putri raja itu. 

Pesan dari gubernur itu dibawa oleh minke menghadap ke raja di sukabumi. Minke memberi tahu bahwa permohonannya ditolak gubernur dan gubernur menyuruh putri raja untuk menikah (tanpan memberi tahu bahwa minke yang diminta untuk menikahinya). Tanpa pikir panjang, sang raja juga menyambut pesan gubernur itu dan meminta minke untuk menikah dengan putrinya. Titah gubernur dan raja, akhirnya minke menikah dengan tuan putri dede maria futimma de suusa. Setelah menikah, hari-hari minke ditemani sang putri yang setia menjadi patner diskusi dan mengabdikan diri kepada suaminya, termasuk membantu di dalam redaksi. 

Dengan ditemani istrinya, minke tetap berpikir bagaimana menyatukan kaum pribumi. Pada proses berpikir ini, minke melihat sebuah realitas oragnisasi syatikat priyayi yang mengalami kemandegan dalam menyuarakan suara rakyat dan urusan agamanya. Disisi lain, minke melihat kaum indisch melakukan praktek perdagangan yang bisa menyatukan kaumnya. Berangkat dari realitas inilah, minke menyadari bahwa perdagangan merupakan faktor yang dapat menggerakkan kaum pribumi untuk bersatu, karena perdagangan akan menciptakan kemakmuran bagi kaum pribumi. Oleh karena itu, berdirilah Syarikat Dagang Islamiyah (SDI). 

Lambat laun berjalannya waktu, SDI berkembang dengan pesat sampai Asia Tenggara, keanggotaannya mencapai ribuan mencakup seluruh wilayah di hindia. Perkembangan SDI yang semakin besar dianggap sebagai ancaman, sehingga banyak gerombolan untuk merusak soliditas SDI. Gerombolan yang ingin merusak SDI ini muncul dengan menebar ancaman dan pengrusakan terhadap anggota SDI, Seperti De Knijper, TAI dan De Zweep (yang berarti si cambuk dalam bahasa belanda). De Knijper didalangi oleh Robert Surhof, karena rasa dendam kepada minke, kedua orang ini memang memiliki masalah seperti yang digambarkan dalam anak semua bangsa. 

Banyaknya ancaman dan intimidasi, membuat anggota SDI sadar untuk membela diri dengan belajar bela diri yaitu pencak silat. Saat itulah, pencak silat berkembang dan dipelajari oleh kaum pribumi. Disisi lain, medan priyayi mulai progresif dengan terbit setiap hari untuk menyampaikan informasi dan edukasi kepada masyarakat, termasuk fakta keadilan dalam hukum bagi kaum pribumi yang selalu tertindas. Gerakan untuk membongkar ketidakadilan hukum yang diterima kaum pribumi didukung oleh sahabatnya yang ahli hukum yaitu hendrik frischboten, suami mir sahabat minke dan menangani berbagai kasus ketidakadilan yang disidangkan. 

Medan priyayi semakin gencar menyuarakan ketidakadilan yang menimpa kaum pribumi. Hal ini menjadi gerakan yang direspon baik oleh masyarakat dan menebarkan benih keberanian bagi kaum pribumi. Masifnya gerakan medan priyayi dalam menyuarakan dan memacu keberanian kaum pribumi dianggap sebagai sebuah ancaman oleh gubermen. Disisi lain, medan priyayi mendapat saingan media baru organisasi tionghoa yaitu koran sin po. Akhirnya minke melakukan berbagai strategi hingga medan priyayi menerbitkan Hikayat Siti Aini dari hadji Moeloek. Strategi inilah yang mengangkat pamor medan priyayi di kalangan masyarakat. 

SDI berkembang pesat ke berbagai daerah, perdagangan kaum pribumi mulai meransek mapan. Pada saat itulah, ketua cabang-cabang SDI, seperti sala, yogyakarta dan kota lainnya dipanggil ke Buitenzorg oleh minke untuk melakukan konferensi. Konferensi ini memutuskan dua keputusan. Pertama, menyetujui minke melakukan kerja propaganda bersama istrinya. Kedua, Minke memberikan mandat pimpinan umum pusat syarikat kepada hadji Samadi di Sala.

Setelah konferensi, minke menjalankan propaganda ke berbagai negeri seperti singapura, malaya, siam dan filipina. Sedangkan seluruh cabang SDI melakukan propaganda di daerah masing-masing. Dan redaksi "medan" diserahkan kepada Sandiman, Marko, Frischboten. Gerakan propaganda di berbagai negeri, memaksa minke mengagendakan untuk menempuh perjalanan panjan bersama istrinya. Rencana kepergiannya diberitahukan kepada istrinya dan istrinya menyetujui untuk ikut serta dalam gerakannya. 

Sebelum dua hari berangkat, istrinya meminta diri untuk menginap di rumah keluarganya di sukabumi terlebih dulu. Minke memberi ijin kepada istrinya untuk menginap dirumah keluarganya di sukabumi, dan minke tidak ikut serta. Namun takdir berkata lain, minke mendengar propaganda berita meda terkena musibah. Meda telah menghina gubernur jenderal yang baru sehingga berita itu menggemparkan. Akibat dari berita propaganda itu, koran medan di preteli dan dihancurkan. Setelah koran medan diberangus, paginya rumah minke disatroni para polisi dengan membawa surat penahanan atas tuduhan "hutang bangsa minke yang diatasnamakan pribadi tuan minke". Sebelum dibawa untuk ditahan dan dibuang dari pulau jawa, minke menyempatkan menulis sepucuk surat melalui pembantunya Piah. 

Lika liku kehidupan seorang minke untuk merengkuh sukses menyatukan kaum pribumi bukanlah jalan yang mulus, tapi penuh dengan kegigihan dan pengorbanan. Hal ini bisa memberikan kita pelajaran sangat penting bahwa kesuksesan bukanlah hadiah cuma-cuma dari dewa dan Tuhan, tapi kesuksesan adalah konsekwensi logis dari kerja keras, belajar, berjuang dan berdo'a. 


Ali Hasan Siswanto (Pengamat politik dan penikmat Moralogi)

Posting Komentar

0 Komentar